- by admin
- Oct 17, 2024
Rapat The Fed berlangsung di tengah penutupan pemerintah AS yang memasuki
minggu keempat sejak 1 Oktober 2025 akibat kebuntuan politik antara Partai
Demokrat dan Partai Republik soal RUU pendanaan, yang juga memicu
kekhawatiran dampak negatif ekonomi lebih luas. Presiden Donald Trump
menolak bernegosiasi selama shutdown berlangsung, meningkatkan risiko
penurunan ekonomi yang menjadi perhatian pembuat kebijakan The Fed.
Meski The Fed telah merencanakan beberapa penurunan suku bunga pada 2025-
2026 sebagai jaminan terhadap lonjakan pengangguran, mereka tetap waspada
terhadap inflasi yang kaku dan dampak tarif Trump terhadap harga domestik,
sehingga kemungkinan Powell hanya akan memberikan nada sedikit lebih dovish
tanpa perubahan kebijakan besar saat pengumuman.
Data ekonomi yang rilis terbatas akibat penutupan, termasuk pesanan barang
tahan lama, estimasi PDB, dan pengeluaran pribadi, dapat memperberat
ketidakpastian kebijakan moneter.
Shutdown pemerintah AS berdampak signifikan pada ekonomi, termasuk
meningkatnya klaim pengangguran, perlambatan persetujuan hipotek,
tertundanya layanan publik, dan potensi risiko PHK lebih luas. Kerugian ekonomi
diperkirakan mencapai US$15 miliar per hari, sekaligus menurunkan kepercayaan
dan investasi. Penutupan juga menghambat rilis data ekonomi penting yang
menjadi indikator utama The Fed dalam menetapkan kebijakan suku bunga.
Tekanan ini menambah kompleksitas situasi ekonomi AS yang sudah rapuh
akibat tekanan pasar tenaga kerja dan tarif perdagangan.
The Fed kemungkinan akan mengamati situasi dengan hati-hati sebelum mengambil keputusan lebih
lanjut. Sebelumnya penasehat gedung putih Kevin Hassett dalam pernyataannya
menyampaikan bahwa Trump minggu lalu akan mengakhiri Shutdown. Namun
bila hal itu tidak terjadi, maka akan berdampak negative pada dolar.