- by admin
- Oct 17, 2024
Investing.com – Presiden Donald Trump mengumumkan pada Selasa (31 Maret 2026) bahwa pasukan militer AS akan meninggalkan Iran dalam dua hingga tiga minggu, setelah misi menghancurkan ancaman nuklir negara itu dinyatakan berhasil. Serangan AS-Israel terhadap fasilitas Iran dimulai pada 28 Februari, memicu konflik yang mematikan dan mengganggu pasokan minyak global.
"Kami akan segera pergi," ujar Trump kepada wartawan di Ruang Oval. "Kami pergi karena misi telah selesai—tidak ada lagi alasan untuk bertahan."
Trump menegaskan AS tak memerlukan kesepakatan baru dengan Iran untuk penarikan. "Mereka butuh 15-20 tahun untuk membangun kembali fasilitas yang kami hancurkan," katanya, sambil menyebut operasi malam sebelumnya yang menargetkan pabrik rudal Iran.
Trump juga membahas lonjakan harga bensin AS yang mencapai rata-rata US$4 per galon akibat penutupan Selat Hormuz. Ia memprediksi penurunan harga pasca-penarikan, dengan menekankan keamanan nasional: "Ya, harga naik, tapi sekarang tidak ada ancaman nuklir ke arah kami—dan rakyat Amerika merasa lebih aman."
Trump menyerahkan tanggung jawab Selat Hormuz ke negara pengimpor minyak lain. "Itu bukan urusan kita. Biarlah Prancis atau siapa pun yang bergantung padanya yang mengurus," tegasnya.
Presiden dijadwalkan berpidato nasional tentang Iran pada pukul 21:00 ET (23:00 GMT) Rabu ini, menurut Sekretaris Pers Karoline Leavitt via media sosial.
Iran merespons tegas. Ebrahim Azizi, kepala Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, menyatakan Selat Hormuz akan dibuka hanya untuk kapal yang mematuhi "hukum baru Iran"—kemungkinan merujuk usulan tol sebelumnya. "Trump capai mimpinya soal perubahan rezim, tapi di ranah maritim kawasan ini," tulis Azizi di media sosial.
Pasar menyambut deeskalasi dengan antusias. Indeks utama Wall Street—S&P 500 (+3,2%), NASDAQ Composite (+3,9%), dan Dow Jones (+2,4%)—menguat pada Selasa, rebound dari penurunan mingguan sejak 28 Februari.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka Mei naik 0,4% ke US$101,77 per barel, sementara Brent stabil di US$106,50. Kenaikan bulanan Maret mencapai 25% tertinggi sejak 2022 akibat penutupan selat, tapi prospek penarikan AS menahan optimisme.
Analisis Trader: Penutupan selat berkepanjangan atau biaya tol Iran berpotensi pertahankan harga minyak tinggi US$100+/bbl jangka pendek, untungkan futures long. Namun, deeskalasi bisa picu koreksi tajam—pantau pidato Trump Rabu untuk sinyal rollover posisi.