Powell Beri Signal Inflasi Masih Terkendali Kendali Kendati Harga Minyak Naik


Powell Beri Signal Inflasi Masih Terkendali Kendali Kendati Harga Minyak Naik
Powell Beri Signal Inflasi Masih Terkendali Kendali Kendati Harga Minyak Naik
57 views

Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada hari Senin mengatakan kebijakan moneter berada pada posisi yang baik untuk “menunggu dan melihat” dampak kenaikan harga minyak akibat konflik Iran terhadap inflasi dan perekonomian AS. Ia menekankan bahwa The Fed tidak akan bereaksi secara prematur terhadap lonjakan harga energi, karena kebijakan moneter bekerja dengan jeda waktu yang panjang dan tidak efektif dalam meredam guncangan pasokan jangka pendek.

Penekanan “wait and see” terhadap konflik Iran

Powell menjelaskan bahwa instrumen kebijakan moneter seperti suku bunga pada dasarnya berfokus pada permintaan, sehingga tidak punya “efek yang berarti” langsung atas guncangan pasokan minyak datang‑pergi. Dalam diskusi yang dimoderasi di Universitas Harvard, ia menegaskan bahwa menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi yang dipicu oleh melonjaknya harga minyak hanya akan berdampak setelah krisis harga berakhir, dan pada saat itu bisa membebani perekonomian dengan memperlambat aktivitas yang belum stabil.

“Guncangan energi cenderung datang dan pergi dengan cukup cepat. Kebijakan moneter bekerja dengan jeda waktu yang panjang dan bervariasi,” kata Powell, menegaskan komitmen Fed untuk bersifat reaktif, bukan reaktif berlebihan. Ia menambahkan bahwa para pejabat memilih tetap “sabar” dan tidak menyesuaikan suku bunga demi menghindari over‑reacting terhadap lonjakan harga minyak yang belum jelas durasi dan skalanya.

Stabilitas suku bunga dan proyeksi inflasi

Dalam keputusan awal bulan ini, The Fed mempertahankan suku bunga pada level terkini, sesuai ekspektasi pasar, sambil menegaskan tingkat ketidakpastian tinggi terhadap konflik Timur Tengah dan dampaknya terhadap inflasi serta pertumbuhan. Proyeksi inflasi terbaru dari Fed menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan tetap memperkirakan setidaknya satu kali pemangkasan suku bunga tahun 2026, meskipun memperkirakan inflasi PCE inti yang lebih tinggi dalam tahun ini.

Powell mengakui bahwa Ringkasan Proyeksi Ekonomi (SEP) yang baru ini sulit diandalkan, karena tidak ada yang benar‑benar mengetahui skenario yang akan terjadi. “Yang benar‑benar ingin saya tekankan adalah tidak ada yang tahu. Dampak ekonominya bisa lebih besar, bisa lebih kecil, bisa jauh lebih kecil atau jauh lebih besar. Kita tidak tahu. Jadi orang‑orang menuliskan sesuatu yang tampaknya masuk akal bagi mereka tetapi tidak memiliki keyakinan,” kata Powell di Harvard.

Pernyataannya merefleksikan narasi bahwa The Fed lebih memilih untuk memantau perkembangan konflik, harga minyak, dan data inflasi secara real‑time, daripada mengambil keputusan berbasis skenario yang tinggi risiko. Dengan pendekatan “wait and see” ini, Fed mempertahankan ruang gerak untuk bereaksi jika tekanan inflasi benar‑benar menetap atau jika shock energi membawa resiko resesi yang lebih dalam.

We Are Team

admin

Please Login to comment in the post!

you may also like

" />
Jumat, April 17, 2026 0:03:37 Jakarta, Indonesia