Mojtaba Khamenei: Sinyalkan Perang Berlanjut


Mojtaba Khamenei: Sinyalkan Perang Berlanjut
Mojtaba Khamenei: Sinyalkan Perang Berlanjut
42 views

Bloomberg – Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei yang dikenal garis keras, sebagai Pemimpin Tertinggi baru. Keputusan Majelis Ahli Iran ini, diumumkan Minggu malam (8 Maret 2026), langsung menuai kritik dari Presiden AS Donald Trump. Langkah itu menjadi sinyal kuat bahwa Teheran tak akan mundur dari konflik Timur Tengah yang mengguncang pasar energi global.

Lonjakan Harga Minyak Akibat Penutupan Selat Hormuz

Harga minyak mentah Brent melonjak drastis melewati US$100 per barel pada perdagangan Senin (9 Maret 2026) pagi di Singapura, naik hingga 16% menjadi US$108 per barel pada pukul 15.00 waktu setempat—level tertinggi dalam hampir empat tahun. Brent bahkan sempat menyentuh hampir US$120 sebelum sedikit melandai setelah Financial Times melaporkan rencana menteri keuangan G-7 membahas pelepasan cadangan minyak bersama via Badan Energi Internasional (IEA).

Penutupan efektif Selat Hormuz memaksa produsen Teluk seperti Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA) memangkas produksi. Lonjakan ini menambah tekanan pada pemerintahan Trump, di mana harga bahan bakar AS sudah meroket sejak pekan lalu. Trump menyebut US$100 per barel sebagai "harga kecil untuk dibayar" yang "akan turun cepat setelah ancaman nuklir Iran musnah," katanya kepada Fox News.

Latar Belakang Pemimpin Baru dan Respons Internasional

Mojtaba (56 tahun) terpilih melalui "pemungutan suara menentukan" oleh Majelis Ahli, menggantikan ayahnya yang berkuasa 37 tahun sebelum tewas dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026. Ia punya hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), kekuatan militer-ekonomi utama Iran yang langsung menyatakan kesetiaan.

Trump mengaku "tidak senang" dengan pilihan ini, meski Mojtaba adalah kandidat unggulan. "Seperti ayahnya, ia konservatif dan akan jaga kontinuitas perang," ujar analis geoekonomi Bloomberg, Dina Esfandiary.

Eskalasi Militer: Serangan Silang dan Korban Jiwa

Konflik mereda sejak akhir pekan, dengan AS-Israel membombardir Teheran dan wilayah barat-tengah Iran (Israel klaim 400 target pada Minggu). Iran balas serang Israel serta negara Teluk menggunakan drone dan rudal, klaim bisa bertahan enam bulan.

Arab Saudi memperkeras sikap setelah serangan Senin ke ladang minyak Shaybah Aramco dan Riyadh. Kementerian Luar Negara Saudi peringatkan eskalasi akan rugikan Iran paling parah, tandai kegagalan upaya diplomatik pekan lalu. Riyadh laporkan dua warga tewas dekat pangkalan Prince Sultan, yang juga jadi basis pasukan AS—total korban AS kini tujuh sejak 1 Maret.

Iran klaim 1.300 tewas akibat serangan AS-Israel. Serangan Israel ke depot bahan bakar Teheran Sabtu picu peringatan Bulan Sabit Merah soal "hujan asam beracun" di kota 9,5 juta jiwa. Pejabat AS dan Senator Lindsey Graham kritik target itu sebagai bumerang, tapi Israel anggap sah dan ancam pembangkit listrik selanjutnya.

UEA, Kuwait, Bahrain, dan Saudi sukses cegat serangan Iran. Kuwait hancurkan tiga rudal balistik dan empat drone; Bahrain laporkan fasilitas desalinasi rusak (pasokan air aman), balas tuduhan Iran atas serangan serupa ke fasilitasnya.

AS perintahkan evakuasi diplomat non-esensial dari Saudi demi keamanan. Trump pertimbangkan operasi khusus sita stok uranium Iran yang dekati grade bom nuklir: "Bisa kami lakukan nanti," katanya di Air Force One.

Konflik ini ancam pasokan air minum Teluk yang bergantung desalinasi, plus pasar komoditas global—terutama emas dan energi yang Anda pantau.

We Are Team

admin

Please Login to comment in the post!

you may also like

" />
Jumat, Maret 13, 2026 7:37:52 Jakarta, Indonesia