- by admin
- Oct 17, 2024
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah setelah Iran dan Oman menyepakati mekanisme sementara untuk mengatur rute pelayaran melalui Selat Hormuz. Namun, kekhawatiran terhadap ketahanan kesepakatan dan ancaman keamanan maritim membatasi penurunan harga.
Harga WTI tertahan di sekitar US$74,20 per barel pada perdagangan sesi Asia, Kamis, setelah bergerak dalam kisaran terbatas selama empat hari berturut-turut. Harga minyak tertekan oleh ekspektasi bahwa kesepakatan Iran-Oman dapat meningkatkan kembali arus pelayaran dan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Iran dan Oman disebut telah mencapai kesepakatan prinsip mengenai peta rute kapal yang masuk dan keluar melalui Selat Hormuz setelah menjalani konsultasi selama lebih dari tiga pekan. Namun, Teheran menegaskan bahwa pengaturan tersebut tidak berarti pembukaan kembali selat secara penuh. Rute sementara itu diperkirakan berlaku selama dua hingga empat bulan dan masih menunggu penyelesaian pernyataan bersama.kompas+1
Kesepakatan tersebut berpotensi mengurangi premi risiko geopolitik dalam harga minyak. Sebelumnya, meningkatnya harapan bahwa Amerika Serikat dan Iran dapat mencapai kesepakatan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz telah mendorong harga futures WTI turun sekitar 1,3% ke level US$74,76 per barel.
Sejumlah pejabat AS masih menyatakan keyakinan bahwa kesepakatan yang lebih luas dengan Iran sudah dekat. Akan tetapi, investor tetap berhati-hati karena kesepakatan sebelumnya berumur pendek dan ketegangan antara Washington dan Teheran masih berpotensi meningkat.
Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group, mengatakan bahwa pasar saat ini optimistis, tetapi tetap waspada. Menurutnya, kesepakatan terbaru tersebut dinilai rapuh seperti sejumlah kesepakatan sebelumnya yang tidak mampu bertahan lama.
Risiko terhadap keamanan pelayaran juga belum sepenuhnya mereda. Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim telah menyerang kapal tanker minyak Arab Saudi di Teluk Aden dan mengancam kapal-kapal lain di Laut Merah. Ancaman tersebut mendorong sejumlah kapal tanker Saudi mengubah rute pelayaran dan menegaskan bahwa gangguan maritim masih menjadi faktor risiko bagi pasar energi global.
TD Securities menilai pelemahan harga minyak baru-baru ini tidak hanya dipengaruhi faktor fundamental, tetapi juga psikologi pasar. Investor masih mengingat penurunan harga sebelumnya setelah tercapainya nota kesepahaman pada Juni, ketika pasokan minyak tambahan benar-benar masuk ke pasar.
Pengalaman tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa setiap kemajuan dalam negosiasi AS-Iran dapat kembali mendorong peningkatan pasokan minyak. Jika rute pelayaran kembali normal dan hambatan ekspor berkurang, pasokan tambahan dapat menekan harga WTI lebih lanjut.
Namun, TD Securities menilai kondisi pasar fisik masih relatif ketat. Struktur timespread dan arus fisik minyak belum menunjukkan kelebihan pasokan yang signifikan, sehingga ruang penurunan harga dapat terbatas apabila kesepakatan Iran-Oman gagal bertahan atau risiko gangguan pasokan kembali meningkat.
Dalam jangka pendek, harga WTI cenderung menghadapi tekanan bearish karena:
kesepakatan sementara berpotensi meningkatkan kelancaran pelayaran dan pasokan energi;
premi risiko geopolitik mulai berkurang;
pasar mengantisipasi kemungkinan tercapainya kesepakatan AS-Iran yang lebih luas.
Namun, penurunan dapat tertahan oleh:
sifat kesepakatan yang sementara dan belum membuka Selat Hormuz sepenuhnya;
ancaman Houthi terhadap kapal tanker di Teluk Aden dan Laut Merah;
kemungkinan gagalnya kesepakatan atau munculnya kembali serangan militer;
kondisi pasar fisik dan struktur timespread yang masih relatif ketat.
Dengan demikian, WTI kemungkinan tetap bergerak volatil di sekitar level US$74 per barel. Pasar akan mencermati implementasi rute Iran-Oman, perkembangan negosiasi AS-Iran, serta setiap gangguan baru terhadap pelayaran dan pasokan minyak di Timur Tengah.