- by admin
- Oct 17, 2024
Investing.com – Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3% di sesi perdagangan Asia Senin (11 Mei 2026), setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal balasan Iran terhadap kerangka perdamaian Washington. Trump menyebut tanggapan Teheran "sama sekali tidak dapat diterima", yang langsung memicu eskalasi risiko geopolitik di kawasan Teluk dan menekan pasokan energi global.
Pukul 19:58 ET (23:58 GMT), kontrak berjangka Brent naik 3,1% menjadi $104,43 per barel, sementara WTI AS ikut menguat 3,1% ke $98,33 per barel. Kenaikan ini membalik penurunan tajam pekan lalu, saat pasar sempat optimis soal kesepakatan sementara untuk membuka jalur pelayaran Teluk.
Proposal awal AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium selama 20 tahun, menghapus stok uranium tinggi, serta membongkar fasilitas nuklir utama—dengan imbalan pencabutan sanksi dan penghentian aksi militer.
Balasan Iran via mediator Pakistan justru menuntut pencabutan sanksi penuh, penarikan armada laut AS dari Selat Hormuz, jaminan keamanan, serta pengakuan hak nuklir terbatas. Wall Street Journal melaporkan Teheran siap mengurangi sebagian uranium tinggi dan memindahkannya ke negara ketiga, tapi ini belum cukup bagi Washington.
Investor kini mata ke Selat Hormuz, yang masih tertutup sebagian sejak awal konflik, berpotensi memperparah defisit pasokan minyak hingga jutaan barel per hari.
Lonjakan ini menambah tekanan inflasi global, terutama jelang rilis data CPI AS Selasa besok. Trader futures kini antisipasi volatilitas tinggi di komoditas energi, dengan risiko risk-off jika negosiasi macet total.
Ketegangan ini berlangsung menjelang kunjungan Trump ke Beijing akhir pekan ini untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Agenda utama mencakup perdagangan, isu Taiwan, dan konflik Iran—di mana China, sebagai pembeli minyak utama Teheran, berpotensi jadi penengah kunci.