- by admin
- Oct 17, 2024
Emas (XAU/USD) berada di bawah tekanan bearish yang kuat dan mencatat
kerugian mingguan bahkan setelah dibuka dengan gap bullish karena berita
tentang serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada
28 Februari. Dalam waktu dekat, investor akan menilai data inflasi dari AS dan
memperhatikan perkembangan baru seputar krisis Timur Tengah. Emas Gagal
Mendapatkan Keuntungan dari Meningkatnya Ketegangan Geopolitik.
Ulasan Analisa Fundamental: Emas menyentuh level tertingginya sejak 30
Januari, di atas $5.400, pada awal pekan, tetapi berbalik arah karena kekuatan
Dolar AS (USD) yang terus-menerus tidak memungkinkan XAU/USD untuk
memanfaatkan aliran safe-haven. Meskipun pasar tetap menghindari risiko,
dengan kekacauan di Timur Tengah yang semakin meluas, kenaikan harga
minyak kembali memicu kekhawatiran akan inflasi yang meningkat di AS. Harga
minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 25% secara
mingguan karena aktivitas angkatan laut di Selat Hormuz terhenti, dan mencapai
level tertinggi sejak April 2024, di atas $87. Selain itu, rilis data makroekonomi
dari AS lebih baik dari yang diperkirakan. Sebagai akibatnya, pelaku pasar
menilai kembali prospek kebijakan Federal Reserve (Fed) dan mulai
memperkirakan penundaan lebih lanjut terhadap kelanjutan pelonggaran
kebijakan moneter.
Ulasan Analisa Teknikal: pada perdagangan hari Kamis, terjadi penurunan
harga emas menguji level $5051/onz karena penguatan dolar. Namun, turunnya
harga emas terbatasi oleh gejolak geopolitik yang semakin meluas. Naiknya
emas berpeluang lanjut menguji level $5081, $5150 hingga $5205. sementara
itu, turunnya emas nampak terbatas menguji support $5050, $4996 hingga
$4958. Emas diperkirakan bergerak dalam trend bullish dalam area antara $5050
hingga $5205.