- by admin
- Oct 17, 2024
TOKYO, 25 Maret 2026 (Reuters) – Banyak pembuat kebijakan Bank of Japan (BOJ) menilai perlu melanjutkan kenaikan suku bunga untuk mengatasi inflasi yang meningkat, dengan beberapa mendesak tindakan tepat waktu, menurut catatan rapat Januari yang dirilis Rabu ini. Sikap hawkish ini terlihat bahkan sebelum perang Iran mendorong harga minyak melonjak.
Mereka juga menekankan kewaspadaan lebih tinggi terhadap dampak pelemahan yen pada inflasi, yang kini lebih signifikan karena perusahaan lebih agresif meneruskan biaya impor dan upah. "Mengatasi kenaikan harga adalah prioritas mendesak di Jepang; BOJ tak boleh menunda kenaikan suku bunga berikutnya," tegas salah satu anggota dewan.
Anggota lain menyerukan kenaikan suku bunga setiap beberapa bulan untuk menekan pelemahan yen yang memicu inflasi impor.
Mekanisme upah dan harga moderat semakin mengakar, didukung negosiasi gaji 2026 yang diproyeksi solid di berbagai sektor.
Inflasi inti mendekati target 2%, meski faktor insidental seperti subsidi memengaruhi CPI; BOJ sarankan fokus pada upah, jasa, dan ekspektasi inflasi.
BOJ yakin tarif AS dan kenaikan suku bunga sebelumnya tak menghambat ekonomi secara signifikan. Setelah naik ke 0,75% pada Desember 2025, suku bunga ditahan di Januari dan Maret 2026, dengan proyeksi inflasi inti 1,9% FY2026.
Konflik Timur Tengah sejak 28 Februari telah menaikkan harga minyak, menambah tekanan inflasi (intinya turun ke 1,6% Februari berkat subsidi) sambil memperlambat impor-dependen Jepang. Beberapa anggota usul tingkatkan komunikasi soal inflasi inti dan suku bunga netral, yang terwujud dalam rilis indikator baru Maret.
Pasar perkirakan 60% peluang kenaikan April, sejalan tekad BOJ normalisasi moneter di tengah risiko energi global.