- by admin
- Oct 17, 2024
Bloomberg, Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan tengah mendiskusikan kemungkinan putaran baru negosiasi tatap muka untuk membahas gencatan senjata jangka panjang. Langkah ini diambil setelah pembicaraan sebelumnya di Islamabad yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance gagal membuahkan terobosan.
Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, target utamanya adalah menggelar pembicaraan baru sebelum masa gencatan senjata dua minggu—yang diumumkan pada 7 April lalu—berakhir pekan depan. Salah satu opsi yang muncul adalah kembali ke Islamabad untuk putaran kedua, meskipun beberapa lokasi alternatif lain juga mulai dibahas.
Pihak Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri AS belum memberikan komentar resmi. Namun, CNN melaporkan pada Senin (13/4) bahwa para pejabat Gedung Putih sedang mendiskusikan kemungkinan pertemuan lanjutan. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga menyatakan bahwa upaya untuk menyelesaikan isu-isu krusial antara AS dan Iran masih terus berjalan.
Presiden Donald Trump memberikan sinyal keterbukaan untuk berdialog kembali pada Senin pagi, dengan mengeklaim bahwa pihak Iran telah menghubungi AS. Meski demikian, di saat yang sama, Trump tetap melanjutkan rencana blokade angkatan laut di Selat Hormuz sebagai upaya meningkatkan tekanan terhadap rezim di Teheran.
“Kami telah dihubungi pagi ini oleh orang-orang yang tepat, orang-orang yang berwenang, dan mereka ingin mengupayakan sebuah kesepakatan,” ujar Trump saat berada di Gedung Putih, tanpa merinci siapa saja yang terlibat dalam percakapan tersebut.
Selain Pakistan, pejabat dari Turki dan Mesir juga dikabarkan ikut memainkan peran diplomasi untuk mengakhiri perang ini. Hal tersebut membuka kemungkinan bahwa pertemuan berikutnya bisa saja berlangsung di salah satu dari kedua negara tersebut.
Sebelumnya, Wapres JD Vance kembali tanpa hasil dari Islamabad akhir pekan lalu setelah negosiasi satu hari gagal mencapai kesepakatan. Trump dan Vance menuding kegagalan itu disebabkan oleh penolakan Iran untuk melepaskan ambisi nuklirnya.
Di sisi lain, Iran—yang membantah ingin membangun bom nuklir namun bersikeras memiliki hak untuk memperkaya uranium—menyalahkan kegagalan tersebut pada apa yang disebut media pemerintah sebagai tuntutan AS yang "berlebihan."
Kendati demikian, pihak Iran tetap membuka pintu dialog. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa perbedaan pandangan yang ada tidak mungkin diselesaikan hanya dalam satu putaran pertemuan. Sinyal positif juga sempat muncul saat Trump mengunggah pesan di media sosial pada Minggu, yang menyebut bahwa para utusannya "secara mengejutkan menjadi sangat ramah dan hormat terhadap perwakilan Iran."
#Investasi #Trading #Tradingonline #Tradingsignals #Belajartrading #Jualbeliemas #Tradingeducation