Selasa, April 28, 2026 3:44:33 Jakarta, Indonesia

Trump Dalam Pertimbangan Mengganti Powell, Dolar Semakin Terpuruk


Trump Dalam Pertimbangan Mengganti Powell, Dolar Semakin Terpuruk
Trump Dalam Pertimbangan Mengganti Powell, Dolar Semakin Terpuruk
1.4K views

Bloomberg, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dinilai bisa merusak kredibilitas dolar dan mengacaukan perekonomian AS jika memecat Gubernur bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. Peringatan ini disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Prancis, Eric Lombard.

“Donald Trump sudah lama merusak kredibilitas dolar dengan langkah-langkah agresifnya terkait tarif,” kata Lombard dalam wawancara yang dimuat di surat kabar La Tribune Dimanche. Jika Powell diberhentikan, katanya, “kredibilitas itu akan makin terkikis, dan berdampak langsung pada pasar obligasi.”

Menurut Lombard, kondisi itu bisa membuat biaya utang meningkat dan menyebabkan “kekacauan mendalam dalam perekonomian AS.” Ia juga memperkirakan bahwa konsekuensi tersebut akan memaksa Washington untuk duduk di meja perundingan demi mengakhiri ketegangan ekonomi.

Pernyataan Lombard muncul setelah Trump, yang frustrasi atas kehati-hatian Powell dalam menurunkan suku bunga, menulis di media sosial bahwa “pemberhentian Powell tidak bisa segera datang.” Pernyataan itu memicu spekulasi apakah Trump ingin memecat Powell atau hanya menantikan masa jabatannya berakhir pada Mei 2026. Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, Kevin Hassett, mengatakan pada Jumat bahwa Trump tengah mempelajari kemungkinan memecat Powell.

Presiden Prancis Emmanuel Macron sendiri dikenal memiliki perbedaan pandangan dengan Trump dalam berbagai isu, mulai dari Ukraina, perdagangan, hingga tawaran perlindungan bagi ilmuwan AS yang kehilangan pendanaan riset akibat kebijakan federal. Namun, komentar Lombard tergolong cukup langsung dan tajam terhadap urusan dalam negeri AS.

Soal tarif, Lombard menyebut bahwa tarif impor 10% yang diberlakukan Trump terhadap produk dari Uni Eropa tidak mencerminkan semangat kerja sama. “Tujuan Eropa adalah membangun zona perdagangan bebas dengan AS,” tegasnya.

Tarif 10% tersebut, lanjutnya, “adalah kenaikan besar yang tidak berkelanjutan bagi perekonomian AS dan menimbulkan risiko serius bagi perdagangan global.”

Lombard juga menyerukan agar para CEO Eropa menunjukkan “patriotisme ekonomi” dan bekerja sama dengan pemerintah masing-masing agar kawasan tersebut tidak tertinggal.

Sebelumnya, miliarder Prancis Bernard Arnault — pemilik grup LVMH yang memiliki merek-merek seperti Moët & Chandon, Veuve Clicquot, dan Hennessy — juga mengisyaratkan bahwa para pemimpin UE belum cukup tegas dalam menuntaskan kesepakatan tarif dengan AS.

We Are Team

admin

Please Login to comment in the post!

you may also like