Investing.com - Harga emas menghadapi tekanan jual hingga mendekati $4.605 selama sesi
awal Asia pada hari Senin. Logam mulia ini jatuh karena ancaman Presiden AS
Donald Trump tentang perang dengan Iran memicu lonjakan harga minyak.
Aktivitas perdagangan tetap lesu karena Jumat Agung. Trump menambahkan
bahwa infrastruktur energi Iran tetap menjadi target potensial. Hal itu kembali
meingkatkan kekhawatiran terhadap potensi lonjakan inflasi global.
Ulasan Analisa Fundamental: Emas tertekan karena kekhawatiran eskalasi
perang Iran yang semakin memanas. XAU/USD berada di bawah tekanan jual
dengan level support $4.600. Sementara minyak mentah WTI naik ke $115 per
barel, level tertinggi sebulan terakhir. Goncangan pasar semakin memanas
seiring ancaman Presiden AS Trump yang akan menghancurkan Iran jika Selat
Hormuz tidak dibuka, diikuti ancaman balasan Iran terhadap infrastruktur AS.
pasar Asia dan Eropa tutup libur Senin Paskah, investor fokus pada sesi Amerika.
Sementara it laporan data tenaa kerja AS dirilis lebih baik dari perkiraan 178K
dari -133K. Kemudian data pengangguran turun diangka 4.3% dari 4.4%. Berita
tersebut semakin mendukung penguatan dolar AS, yang pada gilirannya
didukung oleh naiknya imbal hasil obligasi. Hari ini para pelaku pasar akan terus
memantau perkembangan Timur Tengah terkait ancaman Trump bila selat
Hormuz tidak dibuka. Penyerangan terhadap sumber energi dapat terjadi.
Ulasan Analisa Teknikal: pada perdagangan hari Senin, harga emas tertekan
ke level $4605/onz, trend bearish. Tekanan terhadap emas terjadi merespon
ancaman Trump yang akan serang pusat energi Iran Bila selat Hormuz tidak
dibuka. Data NFP yang solid mendukung dolar. Turunnya emas mengiji support
$4605/onz, bila terlewati, melanjutkan penurunan ke $4553, $4501 hingga
$4465. Di sisi lain, kenaikan menguji resistance $4665, $4692 hingga $4735.
Emas Senin diperkirakan bergerak dalam range $4500 hingga $4707.