- by admin
- Oct 17, 2024
Bloomberg, Gubernur Federal Reserve Bank of Atlanta Raphael Bostic mengatakan para pembuat kebijakan perlu tetap fokus menangani inflasi, dengan tekanan harga yang tinggi diperkirakan masih akan bertahan hingga sebagian besar tahun depan.
Bostic juga mengungkapkan bahwa dalam pertemuan kebijakan The Fed pada 9–10 Desember, ia tidak hanya mendukung keputusan untuk menahan suku bunga, tetapi juga merekomendasikan agar suku bunga tetap dipertahankan hingga 2026. Alasannya, terdapat sejumlah faktor pendorong ekonomi yang berpotensi menjaga tekanan inflasi tetap tinggi. Meski demikian, Bostic bukan pemegang hak suara di Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) tahun ini. Pada pertemuan Desember tersebut, mayoritas anggota pemilih akhirnya mendukung keputusan untuk menurunkan suku bunga sebesar seperempat poin persentase.
“Setelah mempertimbangkan semua faktor, hingga hari ini saya masih memandang stabilitas harga sebagai risiko yang lebih jelas dan lebih mendesak, meskipun terjadi perubahan di pasar tenaga kerja,” tulis Bostic dalam sebuah esai yang dipublikasikan Selasa (16/12). “Saya melihat sangat sedikit indikasi bahwa tekanan harga akan mereda sebelum pertengahan hingga akhir 2026, paling cepat, dan saya memperkirakan inflasi tetap berada di atas 2,5% bahkan hingga akhir 2026.”
Para pembuat kebijakan di Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) memiliki pandangan yang sangat beragam terkait arah suku bunga yang tepat. Penurunan suku bunga pekan lalu, yang merupakan pemangkasan ketiga sepanjang tahun ini, diwarnai oleh tiga suara berbeda pendapat. Dua di antaranya berasal dari presiden bank sentral regional yang memilih mempertahankan suku bunga, sementara satu lainnya datang dari Gubernur Stephen Miran yang justru mendorong pemangkasan lebih besar, yakni setengah poin persentase. Enam pembuat kebijakan lainnya juga menyampaikan proyeksi suku bunga pekan lalu yang mengindikasikan penolakan mereka terhadap pemangkasan terbaru tersebut.
Proyeksi median menunjukkan para pembuat kebijakan memperkirakan hanya satu kali penurunan suku bunga tahun depan. Namun, proyeksi tersebut disusun sebelum rilis data ekonomi tertunda pada Selasa (16/12) yang menunjukkan tingkat pengangguran naik menjadi 4,6% pada November. Sementara itu, investor memperkirakan akan ada dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar seperempat poin tahun depan, berdasarkan harga kontrak berjangka.
Kepala The Fed Atlanta itu menyebut perbedaan pendapat terkait keputusan suku bunga pekan lalu menjadi bukti bahwa keputusan tersebut merupakan “pilihan yang sangat ketat.” Meski demikian, ia menilai bahwa meskipun permintaan tenaga kerja mulai mendingin, skenario “pelemahan pasar tenaga kerja yang parah” bukanlah yang paling mungkin terjadi.
Menurut Bostic, sebagian perusahaan mungkin sedang mengurangi jumlah tenaga kerja setelah sebelumnya berekspansi terlalu agresif pascapandemi. Di sisi lain, ada pula perusahaan yang mulai memanfaatkan teknologi untuk menggantikan tenaga kerja manusia. Dua perubahan ini, kata dia, merupakan pergeseran struktural yang tidak dapat diatasi hanya dengan penyesuaian suku bunga.
Terkait inflasi, Bostic mengatakan survei bisnis yang dilakukan oleh The Fed Atlanta menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan memperkirakan akan terus menaikkan harga “hingga jauh ke dalam 2026,” dan tekanan tersebut tidak hanya dirasakan oleh perusahaan yang terdampak langsung oleh tarif. Ia menambahkan bahwa inflasi tinggi pada sektor jasa “supercore”, yang tidak mencakup perumahan, berpotensi menjaga inflasi utama tetap mendekati 3%.
“Jika kekuatan inflasi yang mendasar terus bertahan selama berbulan-bulan ke depan, saya khawatir publik dan para penentu harga pada akhirnya akan meragukan bahwa FOMC dapat mencapai target inflasi dalam jangka waktu yang wajar,” ujar Bostic.